5 Mitos Menyusui yang Masih Dipercaya — Ini Faktanya!
Di era informasi yang begitu deras, mitos seputar menyusui masih banyak beredar dan diyakini — bahkan oleh ibu-ibu yang memiliki akses ke internet. Sebagai konselor laktasi, saya sering menemukan klien yang khawatir akibat informasi yang kurang tepat. Mari kita luruskan bersama.
Mitos #1: "ASI Bening Berarti Tidak Berkualitas"
Ini adalah salah satu mitos paling umum yang membuat banyak ibu merasa tidak percaya diri. Faktanya, ASI memiliki dua fase dalam satu sesi menyusui:
Foremilk adalah ASI yang keluar di awal sesi menyusui. Warnanya memang lebih bening atau kebiruan karena mengandung banyak laktosa (gula alami) dan air — fungsinya untuk memuaskan rasa haus bayi. Hindmilk keluar setelahnya, berwarna lebih putih dan kental karena kaya akan lemak yang penting untuk pertumbuhan berat badan bayi.
Keduanya dibutuhkan bayi dan keduanya bergizi. Menurut Kemenkes RI, ASI selalu menyesuaikan kebutuhan bayi — komposisinya bahkan berubah seiring waktu dan usia bayi. Tidak ada ASI yang "tidak berkualitas."
Sumber: Kemenkes RI/Yankes, "ASI Eksklusif" (2022); IDAI, "Air Susu Ibu dan Menyusui" (2016).
Mitos #2: "Bayi Menangis Terus Berarti ASI Kurang"
Bayi menangis karena berbagai alasan — bukan hanya lapar. Bayi bisa menangis karena ingin dipeluk, popok basah, kembung, terlalu panas/dingin, overstimulasi, atau sekadar butuh kenyamanan.
Cara yang lebih andal untuk menilai kecukupan ASI adalah dengan melihat tanda-tanda objektif: bayi buang air kecil minimal 6 kali sehari dengan urin jernih, berat badan naik sesuai kurva pertumbuhan, bayi tampak puas dan tenang setelah menyusu, serta tinja berwarna kuning keemasan.
Yang perlu dipahami, produksi ASI memang tidak selalu sama setiap harinya — menurut data medis, volume produksi berkisar antara 450–1.200 ml per hari. Jika suatu hari terasa berkurang, besar kemungkinan hari berikutnya akan meningkat kembali.
Sumber: Kemenkes RI/Yankes, "ASI Eksklusif" (2022); WHO, "Infant and Young Child Feeding Counselling" (2024).
Mitos #3: "Ibu Menyusui Harus Diet Ketat dan Pantang Banyak Makanan"
Banyak ibu menyusui yang mendapat tekanan untuk menghindari berbagai jenis makanan — dari makanan pedas, bersantan, hingga seafood. Faktanya, ibu menyusui justru membutuhkan tambahan sekitar 500 kalori per hari dan asupan gizi yang beragam.
Kemenkes RI menganjurkan ibu menyusui untuk mengonsumsi makanan yang kaya protein, zat besi, kalsium, dan omega-3. Yang paling penting adalah hidrasi yang cukup — minimal 8 gelas air putih per hari.
Tidak ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan bahwa makanan tertentu secara langsung menyebabkan masalah pada bayi yang disusui, kecuali dalam kasus alergi spesifik yang sangat jarang dan harus didiagnosis oleh dokter.
Sumber: Kemenkes RI, "Pedoman Bagi Ibu Hamil, Ibu Nifas dan Bayi Baru Lahir" (2020); WHO, "Infant and Young Child Feeding" Fact Sheet (2023).
Mitos #4: "Kalau Payudara Terasa Lembek, Berarti ASI Sudah Habis"
Payudara yang terasa lembek atau "kosong" sebenarnya adalah tanda bahwa tubuh ibu telah beradaptasi dengan kebutuhan bayi. Ini normal dan biasanya terjadi setelah beberapa minggu menyusui, ketika produksi ASI sudah stabil sesuai permintaan bayi.
Produksi ASI bekerja berdasarkan prinsip supply and demand — semakin sering payudara dikosongkan, semakin banyak ASI yang diproduksi. ASI sebenarnya tidak "disimpan" di payudara; ASI diproduksi secara terus-menerus. Payudara yang keras dan penuh justru bisa menjadi tanda bahwa ASI tidak dikosongkan dengan baik, yang berpotensi menyebabkan bendungan ASI atau mastitis.
Sumber: Kemenkes RI/Yankes, "ASI Eksklusif" (2022); IDAI, "Mengapa ASI Eksklusif Sangat Dianjurkan pada Usia di Bawah 6 Bulan" (2013).
Mitos #5: "Kolostrum Sedikit, Perlu Ditambah Susu Formula"
Kolostrum — ASI pertama yang keluar setelah melahirkan — memang diproduksi dalam jumlah sedikit, sekitar 5–7 ml dalam beberapa hari pertama. Banyak ibu dan keluarga yang khawatir bahwa jumlah ini tidak cukup.
Namun menurut Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes RI, volume kolostrum yang kecil ini sudah sesuai dengan kapasitas lambung bayi baru lahir yang memang sangat kecil (sekitar 5–7 ml atau seukuran kelereng).
Kolostrum sangat pekat dan kaya nutrisi serta antibodi — sering dijuluki "emas cair" atau "vaksin pertama bayi". Memberikan susu formula di hari-hari pertama justru dapat menghambat produksi ASI karena bayi menjadi kurang sering menyusu langsung.
Sumber: Kemenkes RI, "Memperlancar Produksi ASI" (14 Agustus 2024); PP No. 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan.
Kesimpulan
Mitos-mitos ini seringkali menjadi penyebab ibu kehilangan kepercayaan diri dan akhirnya berhenti menyusui lebih awal. Padahal, dengan informasi yang tepat dan dukungan yang memadai, sebagian besar ibu mampu menyusui dengan sukses.
Jika Bunda mendengar informasi seputar menyusui yang membuat ragu, jangan ragu untuk bertanya kepada konselor laktasi atau tenaga kesehatan terlatih. Informasi yang akurat adalah kunci keberhasilan menyusui.
Punya Pertanyaan Seputar Menyusui?
Tanyakan langsung ke Mba Septi — konselor laktasi bersertifikat. Konsultasi awal via chat gratis, tanpa komitmen.
Tanya Mba Septi via WhatsAppReferensi
- Kemenkes RI/Yankes. "ASI Eksklusif." 2022. yankes.kemkes.go.id
- IDAI. "Air Susu Ibu dan Menyusui." 2016.
- IDAI. "Mengapa ASI Eksklusif Sangat Dianjurkan pada Usia di Bawah 6 Bulan." 2013. idai.or.id
- Kemenkes RI. "Pedoman Bagi Ibu Hamil, Ibu Nifas dan Bayi Baru Lahir." 2020.
- WHO. "Infant and Young Child Feeding." Fact Sheet, diperbarui 2023. who.int
- Kemenkes RI. "Memperlancar Produksi ASI." 14 Agustus 2024. kemkes.go.id
- WHO. "Infant and Young Child Feeding Counselling: An Integrated Course." 2024.
- PP No. 28 Tahun 2024 tentang Pelaksanaan UU No. 17/2023 tentang Kesehatan.