Puting lecet atau nyeri saat menyusui adalah salah satu keluhan paling umum yang saya temui sebagai konselor laktasi. Rasa sakit ini bisa sangat mengganggu dan membuat banyak ibu mempertimbangkan untuk berhenti menyusui. Tapi, puting lecet hampir selalu bisa diatasi — dan kabar baiknya, sebagian besar penyebabnya dapat dikoreksi.

Daftar Isi

  1. Penyebab Utama Puting Lecet
  2. Memahami Pelekatan yang Benar
  3. Posisi Menyusui yang Tepat
  4. Solusi Praktis untuk Puting Lecet
  5. Kapan Harus Konsultasi ke Konselor Laktasi?
  6. Referensi

1. Penyebab Utama Puting Lecet

Menurut Kemenkes RI, penyebab paling umum puting lecet adalah teknik menyusui yang kurang tepat — khususnya pelekatan (latch) yang tidak benar. Ketika bayi hanya menghisap bagian puting saja (tanpa memasukkan cukup areola ke dalam mulut), puting akan terjepit dan mengalami gesekan berlebih.

Beberapa penyebab lain yang perlu diperhatikan:

Tongue-tie (ankyloglossia): Kondisi di mana frenulum (tali lidah) bayi terlalu pendek sehingga membatasi gerakan lidah. Ini menyebabkan bayi kesulitan melakukan pelekatan yang dalam dan efektif. Tongue-tie perlu didiagnosis oleh tenaga kesehatan terlatih.

Penggunaan pompa ASI yang tidak tepat: Ukuran corong (flange) yang tidak sesuai atau tekanan hisap yang terlalu kuat dapat menyebabkan iritasi dan cedera pada puting.

Infeksi jamur (candida/thrush): Ditandai dengan rasa nyeri seperti terbakar yang menetap, puting berwarna kemerahan atau merah muda terang, dan kadang disertai bercak putih di mulut bayi. Kondisi ini memerlukan penanganan medis.

Bingung puting: Bayi yang terbiasa menggunakan dot atau botol mungkin memiliki pola hisapan berbeda yang menyebabkan pelekatan kurang efektif saat menyusu langsung.

Sumber: Kemenkes RI, "Memperlancar Produksi ASI" (2024); WHO, "Protecting, Promoting and Supporting Breastfeeding in Facilities Providing Maternity and Newborn Services" (2017, diperbarui 2024).

2. Memahami Pelekatan (Latch) yang Benar

Pelekatan yang benar adalah kunci utama menyusui tanpa rasa sakit. Menurut panduan WHO, indikator pelekatan yang baik meliputi:

✅ Tanda Pelekatan Benar

Mulut bayi terbuka lebar (sudut lebih dari 120°), dengan bibir bawah terputar keluar (flanged). Dagu bayi menempel di payudara, dan lebih banyak areola terlihat di atas bibir atas daripada di bawah bibir bawah. Bayi menghisap dengan dalam dan berirama, terdengar suara menelan, dan pipi bayi tampak bulat (tidak mencekung). Ibu merasa nyaman — tidak ada nyeri tajam saat menyusui.

⚠️ Tanda Pelekatan Salah

Mulut bayi tidak terbuka lebar, bibir bawah terlipat ke dalam, hanya puting yang masuk ke mulut (tanpa areola), pipi bayi mencekung, terdengar bunyi "klik-klik" atau decak, puting terasa terjepit dan nyeri tajam, atau puting berubah bentuk (pipih, miring) setelah bayi selesai menyusu.

Sumber: WHO, "Protecting, Promoting and Supporting Breastfeeding in Facilities Providing Maternity and Newborn Services" (2017); Kemenkes RI, "Memperlancar Produksi ASI" (2024).

3. Posisi Menyusui yang Tepat

Posisi menyusui yang baik akan memudahkan pelekatan yang benar. Menurut Kemenkes RI, ada beberapa prinsip dasar posisi menyusui yang efektif:

Prinsip umum: Kepala, leher, dan badan bayi berada dalam satu garis lurus. Badan bayi menghadap badan ibu (perut ke perut). Badan bayi dekat dengan badan ibu. Seluruh badan bayi tertopang — tidak hanya kepala dan leher.

Beberapa posisi menyusui yang bisa Bunda coba:

Cradle Hold: Posisi paling umum. Kepala bayi berada di lengkungan siku tangan ibu, badan bayi menghadap ibu.

Cross-cradle Hold: Mirip cradle, tapi kepala bayi ditopang oleh tangan yang berlawanan. Posisi ini memberikan kontrol lebih baik, cocok untuk bayi baru lahir atau bayi yang kesulitan melakukan pelekatan.

Football Hold: Bayi diletakkan di samping badan ibu, kaki mengarah ke belakang. Cocok untuk ibu pasca operasi caesar atau ibu dengan payudara besar.

Side-lying: Posisi berbaring menyamping. Ideal untuk menyusui di malam hari atau saat ibu kelelahan. Pastikan lingkungan aman untuk bayi.

💡
Tips dari Mba Septi: Tidak ada satu posisi yang "paling benar" — posisi terbaik adalah yang membuat ibu dan bayi sama-sama nyaman dengan pelekatan yang baik. Jangan ragu untuk bereksperimen!

4. Solusi Praktis untuk Puting Lecet

a. Koreksi Pelekatan

Langkah paling penting dan efektif. Jika bayi sudah menyusu dengan pelekatan yang salah, jangan langsung menarik bayi dari payudara — masukkan jari kelingking Bunda ke sudut mulut bayi untuk melepaskan hisapan, lalu coba lagi dengan pelekatan yang lebih baik.

b. Oleskan ASI pada Puting

Setelah menyusui, oleskan beberapa tetes ASI pada puting dan areola, lalu biarkan mengering di udara terbuka. ASI mengandung zat antibakteri dan faktor penyembuhan alami yang membantu mempercepat penyembuhan kulit.

c. Hindari Sabun dan Bahan Iritan

Jangan mencuci puting dengan sabun — cukup bilas dengan air bersih saat mandi. Sabun dapat menghilangkan minyak alami kulit yang berfungsi sebagai pelindung.

d. Gunakan Lanolin Murni (Jika Perlu)

Lanolin murni (medical grade) dapat dioleskan pada puting yang lecet untuk menjaga kelembaban dan mempercepat penyembuhan. Lanolin murni aman dan tidak perlu dibersihkan sebelum menyusui. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan produk apapun.

e. Mulai Menyusui dari Sisi yang Tidak Sakit

Jika salah satu puting lebih sakit, mulailah menyusui dari sisi yang lebih nyaman. Refleks let-down biasanya lebih kuat di awal sesi menyusui, sehingga saat berpindah ke sisi yang sakit, bayi tidak perlu menghisap terlalu kuat.

f. Variasikan Posisi Menyusui

Mengubah posisi menyusui membantu mendistribusikan tekanan pada area puting yang berbeda, sehingga area yang lecet mendapat kesempatan untuk pulih.

Berapa lama puting lecet sembuh? Dengan perbaikan pelekatan dan perawatan yang tepat, puting lecet umumnya membaik dalam 3–7 hari. Jika tidak ada perbaikan dalam waktu tersebut, segera konsultasi ke konselor laktasi atau tenaga kesehatan.

5. Kapan Harus Konsultasi ke Konselor Laktasi?

Segera cari bantuan profesional jika Bunda mengalami situasi berikut:

Nyeri tidak membaik setelah koreksi pelekatan. Puting berdarah atau terdapat luka terbuka. Terdapat tanda-tanda infeksi (puting sangat merah, bengkak, terasa panas, atau ada nanah). Nyeri menyebar ke payudara bagian dalam (kemungkinan mastitis). Bayi kesulitan melakukan pelekatan meskipun sudah dicoba berbagai posisi. Dugaan tongue-tie pada bayi.

Konselor laktasi terlatih dapat membantu menilai pelekatan secara langsung, mengidentifikasi penyebab masalah, dan memberikan solusi yang disesuaikan dengan kondisi Bunda dan bayi.

Puting Lecet Tidak Kunjung Membaik?

Jangan menderita sendirian. Mba Septi dari KOLASE siap membantu — bisa home visit, konsultasi di klinik, atau konsultasi virtual.

Konsultasi dengan Mba Septi

Referensi

  1. WHO. "Protecting, Promoting and Supporting Breastfeeding in Facilities Providing Maternity and Newborn Services." Guideline, 2017 (diperbarui 2024). ncbi.nlm.nih.gov
  2. Kemenkes RI. "Memperlancar Produksi ASI." 14 Agustus 2024. kemkes.go.id
  3. Kemenkes RI. "Pedoman Bagi Ibu Hamil, Ibu Nifas dan Bayi Baru Lahir." 2020.
  4. IDAI. "Air Susu Ibu dan Menyusui." 2016.
  5. Kemenkes RI/Yankes. "ASI Eksklusif." 2022. yankes.kemkes.go.id
  6. WHO. "Infant and Young Child Feeding Counselling: An Integrated Course." Participant's Manual, 2nd ed. 2024.
Bagikan artikel ini: WhatsApp